Toko duty free sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman di bandara internasional. Banyak orang beranggapan bahwa barang-barang yang dijual di duty free pasti lebih murah dibanding toko biasa, karena bebas pajak bea masuk. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Di balik etalase yang penuh parfum, kosmetik, cokelat, dan minuman beralkohol, terdapat strategi bisnis yang jauh lebih kompleks.
Secara prinsip, duty free memang dibebaskan dari bea masuk dan beberapa jenis pajak tertentu. Hal ini memberikan ruang bagi toko untuk menawarkan harga yang kompetitif, khususnya untuk produk impor yang biasanya dikenakan tarif tinggi di dalam negeri. Meski begitu, bebas pajak bukan berarti seluruh barang otomatis dijual dengan harga rendah. Beberapa produk sering kali memiliki harga yang setara bahkan lebih tinggi dibandingkan pasar lokal, tergantung pada merek, kebijakan distributor, dan biaya operasional toko di bandara.
Fakta menariknya, bisnis duty free merupakan salah satu sumber pendapatan terbesar bagi bandara. Di era modern, bandara tidak lagi mengandalkan pendapatan utama dari aktivitas penerbangan seperti landing fee atau biaya parkir pesawat. Justru, pendapatan non-aeronautical—yang mencakup toko duty free, restoran, parkir kendaraan, hingga penyewaan ruang komersial—dapat menyumbang sekitar 40 hingga 60 persen total pemasukan bandara.
Toko duty free memainkan peran khusus dalam ekosistem ini. Mereka memperoleh keuntungan dengan memanfaatkan alur penumpang internasional yang besar, ditambah dengan strategi pemasaran yang menekankan urgensi dan eksklusivitas. Penumpang sering kali berbelanja karena merasa berada dalam “zona bebas pajak”, meskipun tidak semua barang benar-benar lebih murah. Selain itu, lokasi toko yang strategis setelah pemeriksaan keamanan membuat penumpang berada dalam suasana santai namun terbatas waktu, sehingga cenderung melakukan pembelian impulsif.
Dari sisi bandara, keberadaan duty free sangat menguntungkan. Bandara mengenakan biaya sewa atau komisi penjualan kepada pengelola toko. Semakin ramai bandara tersebut, semakin besar potensi pendapatannya. Inilah sebabnya banyak bandar udara dunia mendesain area terminal sedemikian rupa agar penumpang melewati jalur yang dipenuhi toko dan gerai retail sebelum sampai ke gate keberangkatan.
Pada akhirnya, “murah”-nya duty free bukan semata soal pajak, melainkan kombinasi antara strategi pemasaran, persepsi penumpang, serta struktur bisnis bandara itu sendiri. Duty free bukan hanya tempat belanja, tetapi bagian dari mesin ekonomi yang membuat bandara modern dapat bertahan dan terus berkembang.
Jika dibandingkan dengan pasar biasa, kadang harga memang lebih kompetitif, terutama untuk barang premium. Namun pembeli tetap perlu teliti, karena tidak semua produk menawarkan keuntungan harga yang signifikan.
Leave a comment