Artikel Non AeroBlog

Mengapa Orang Membeli Barang yang Tidak Direncanakan di Bandara? Membaca Psikologi Belanja dalam Situasi Perjalanan

Bandara merupakan salah satu lingkungan ritel yang unik. Penumpang datang dengan tujuan utama bepergian, bukan berbelanja. Namun, setelah melewati pemeriksaan keamanan, menunggu jadwal keberangkatan, atau berjalan menuju gerbang, sebagian dari mereka justru membeli kopi, parfum, makanan, suvenir, aksesori perjalanan, hingga barang yang sebelumnya tidak ada dalam daftar belanja. Fenomena ini menarik karena keputusan pembelian terjadi di tengah aktivitas yang memiliki tujuan berbeda: perjalanan.

Bagi pengelola bandara dan operator bisnis non-aero, perilaku tersebut memiliki nilai ekonomi yang penting. Pendapatan ritel tidak hanya ditentukan oleh jumlah toko atau variasi produk, tetapi juga oleh bagaimana penumpang menggunakan waktu, melihat produk, menilai kebutuhan, dan mengambil keputusan dalam lingkungan yang relatif terbatas. Memahami perilaku belanja spontan dapat membantu pengelola merancang pengalaman komersial yang lebih relevan, tanpa harus mengandalkan promosi agresif atau manipulasi psikologis.

Meski demikian, tidak semua pembelian yang tampak spontan dapat dijelaskan sebagai keputusan impulsif. Membeli air minum karena haus, adaptor karena lupa membawa pengisi daya, atau hadiah untuk keluarga yang baru terpikir ketika melihat toko suvenir merupakan situasi yang berbeda. Artikel ini membedakan temuan riset yang telah didokumentasikan dari hipotesis yang masuk akal tetapi masih membutuhkan pengujian khusus di lingkungan bandara.

Bandara Bukan Sekadar Tempat Belanja, Melainkan Lingkungan Pengambilan Keputusan

Perbedaan mendasar antara pusat perbelanjaan dan bandara terletak pada tujuan awal pengunjung. Konsumen yang datang ke pusat perbelanjaan mungkin memang berniat mencari pakaian, makan, atau menghabiskan waktu luang. Sebaliknya, penumpang bandara biasanya memiliki agenda utama berupa check-in, pemeriksaan keamanan, mencari gerbang, dan mengejar jadwal penerbangan. Aktivitas belanja sering kali menjadi kegiatan tambahan di antara rangkaian tersebut.

Situasi ini menciptakan konteks belanja yang khas. Penumpang mempunyai waktu tunggu yang kadang cukup panjang, tetapi kebebasan mereka tetap dibatasi oleh jadwal boarding, jarak menuju gerbang, dan ketidakpastian perjalanan. Mereka juga tidak selalu membawa daftar belanja atau membandingkan produk secara mendalam. Akibatnya, produk yang mudah dikenali, relevan dengan perjalanan, dan dapat dibeli tanpa proses rumit berpotensi mendapatkan perhatian lebih besar.

Namun, konteks tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa penumpang bandara lebih impulsif daripada konsumen di tempat lain. Untuk menyimpulkan hal itu, diperlukan perbandingan data pembelian, karakteristik konsumen, jenis produk, harga, dan situasi belanja di beberapa lingkungan ritel. Yang dapat dikatakan dengan lebih hati-hati adalah bahwa bandara menghadirkan kombinasi kondisi tertentu yang berpotensi memengaruhi keputusan pembelian.

1. Waktu Tunggu: Kesempatan Belanja yang Tidak Selalu Disadari

Waktu tunggu merupakan salah satu faktor yang paling relevan dalam memahami perilaku belanja di bandara. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Retailing and Consumer Services pada 2023 menganalisis hubungan antara tekanan waktu, visibilitas toko, dan pilihan aktivitas penumpang menggunakan data lintasan pergerakan di terminal. Hasilnya menunjukkan bahwa pengaruh waktu tidak sesederhana “semakin lama menunggu, semakin banyak belanja”. Penumpang yang tidak terlalu tertekan oleh waktu cenderung lebih leluasa melakukan aktivitas tambahan, sedangkan tekanan waktu dapat menghasilkan pola kunjungan toko yang berbeda pada kelompok penumpang yang berbeda.

ScienceDirect

Temuan ini penting bagi operator bandara. Waktu tunggu yang panjang memang memberi kesempatan untuk menjelajahi toko, tetapi kesempatan tersebut baru bernilai komersial jika penumpang merasa aman dari risiko terlambat. Kursi tunggu yang nyaman, informasi penerbangan yang jelas, petunjuk arah yang mudah dipahami, serta toko yang berada di jalur pergerakan alami dapat membantu penumpang memanfaatkan waktu tanpa merasa kehilangan kendali atas perjalanan mereka.

Dari sisi bisnis, waktu tunggu sebaiknya dipandang sebagai peluang untuk melayani kebutuhan penumpang, bukan sekadar waktu kosong yang harus dimonetisasi. Menempatkan produk makanan, minuman, kebutuhan perjalanan, dan hadiah kecil pada titik yang mudah dijangkau mungkin lebih efektif daripada mengandalkan toko besar yang membutuhkan waktu kunjungan lebih lama. Namun, efektivitas strategi tersebut tetap perlu diuji melalui data transaksi dan pola pergerakan di setiap terminal.

2. Tekanan Waktu dan Urgensi: Mengapa Keputusan Bisa Berubah?

Riset mengenai pembelian impulsif di toko duty-free bandara menunjukkan bahwa tekanan waktu berkaitan dengan proses pengambilan keputusan yang lebih kompleks daripada sekadar terburu-buru. Studi Chih-Chin Liang dan Annie Pei-I Yu yang terbit pada 2024, berdasarkan survei terhadap 502 responden yang pernah melakukan perjalanan internasional dan mengunjungi toko duty-free, menemukan bahwa tekanan waktu dan motivasi belanja hedonis berpengaruh positif terhadap emosi konsumen. Emosi positif tersebut selanjutnya berkaitan dengan terjadinya pembelian impulsif.

Emerald Publishing
+1

Sekilas, hasil tersebut mungkin terdengar bertentangan: bagaimana tekanan waktu dapat berhubungan dengan emosi positif? Salah satu penjelasannya adalah bahwa tekanan waktu tidak selalu dirasakan sebagai ancaman. Dalam situasi tertentu, batas waktu dapat membuat pengalaman berbelanja terasa lebih intens, terutama ketika konsumen menikmati proses memilih produk. Akan tetapi, penelitian tersebut tidak berarti semua penumpang yang terburu-buru akan berbelanja lebih banyak. Penumpang yang khawatir tertinggal pesawat justru mungkin menghindari toko sama sekali.

Di sinilah pentingnya membedakan urgensi yang nyata dan urgensi yang diciptakan pemasaran. Kebutuhan membeli obat-obatan tertentu, adaptor, atau makanan sebelum penerbangan bisa bersifat praktis. Sebaliknya, label promosi seperti “kesempatan terakhir” tidak otomatis membuat produk menjadi relevan. Bagi pengelola ritel bandara, pendekatan yang lebih berkelanjutan adalah menyediakan produk yang mudah ditemukan, informasi harga yang transparan, dan proses pembayaran cepat, bukan sengaja membuat konsumen merasa terdesak.

3. Visibilitas Produk: Barang yang Terlihat Memiliki Peluang untuk Dipertimbangkan

Penumpang tidak mungkin membeli barang yang sama sekali tidak mereka sadari keberadaannya. Karena itu, penempatan toko, tampilan etalase, kejelasan kategori produk, dan keterbacaan informasi menjadi unsur penting dalam lingkungan ritel bandara. Studi berbasis data lintasan penumpang di Bandara Songshan, Taipei, secara khusus memasukkan visibilitas toko dan tekanan waktu ke dalam model pilihan aktivitas penumpang. Penelitian ini menegaskan bahwa keputusan mengunjungi toko dipengaruhi oleh kombinasi kondisi perjalanan dan karakteristik lingkungan, bukan satu faktor tunggal.

ScienceDirect

Dalam praktiknya, produk kecil yang relevan dengan perjalanan—seperti makanan ringan, suvenir lokal, masker tidur, atau aksesori ponsel—dapat lebih mudah menarik perhatian jika ditampilkan pada lokasi yang dilewati penumpang secara alami. Sebaliknya, produk yang membutuhkan penjelasan panjang atau harus dicari di rak yang tidak jelas mungkin kehilangan kesempatan diperhatikan. Ini merupakan alasan bagi operator untuk mengevaluasi tata letak berdasarkan arus penumpang, bukan hanya luas ruang sewa atau nilai estetika desain.

Meski demikian, perlu dibedakan antara terlihat, dikunjungi, dan dibeli. Etalase yang menarik bisa meningkatkan perhatian, tetapi belum tentu menghasilkan transaksi jika harga tidak sesuai, stok tidak tersedia, atau produk tidak dibutuhkan. Karena itu, pengelola sebaiknya menilai efektivitas penempatan melalui indikator seperti jumlah pengunjung toko, tingkat konversi pembelian, nilai transaksi rata-rata, serta perbedaan kinerja sebelum dan sesudah perubahan tata letak.

4. Kebutuhan Hadiah: Membeli untuk Orang Lain, Bukan Hanya untuk Diri Sendiri

Belanja di bandara tidak selalu berangkat dari kebutuhan pribadi. Penumpang juga dapat mencari hadiah untuk keluarga, teman, kolega, atau orang yang akan mereka temui setelah tiba. Produk seperti cokelat, parfum, makanan khas daerah, dan suvenir memiliki fungsi sosial: barang tersebut bukan sekadar benda yang dibeli, melainkan cara untuk menunjukkan perhatian atau membawa pulang sesuatu yang mewakili tempat yang dikunjungi.

Ada dukungan empiris untuk melihat hadiah dan suvenir sebagai bagian penting dari perilaku belanja bandara. Penelitian mengenai preferensi belanja penumpang di Taiwan Taoyuan International Airport menemukan bahwa konsumen menghargai karakteristik kegunaan dan suvenir dari produk yang ditawarkan. Studi tersebut juga mencatat bahwa kelompok responden termuda cenderung berbelanja di toko suvenir dan kafe. Temuan ini menunjukkan adanya variasi motivasi berdasarkan karakteristik konsumen, meskipun hasilnya tidak dapat langsung digeneralisasi untuk seluruh bandara dan semua kelompok penumpang.

ScienceDirect

Hipotesis bisnisnya: kebutuhan memberi hadiah dapat menjadi lebih menonjol ketika perjalanan dipersepsikan sebagai momen khusus, misalnya liburan, perjalanan dinas, atau kunjungan keluarga. Akan tetapi, belum tentu keputusan membeli hadiah selalu muncul secara spontan di bandara. Sebagian penumpang mungkin sudah merencanakannya sejak sebelum berangkat. Karena itu, operator sebaiknya menyediakan pilihan hadiah yang mudah dikenali, dikemas dengan baik, memiliki rentang harga beragam, dan cepat dibawa tanpa menyulitkan perjalanan.

5. Emosi, Suasana, dan Pengalaman Berbelanja

Perjalanan udara dapat menghadirkan berbagai emosi: antusiasme menjelang liburan, kegembiraan bertemu keluarga, atau kelelahan setelah perjalanan panjang. Suasana di area ritel dapat berinteraksi dengan kondisi tersebut. Penelitian Liang dan Yu pada 2024 menemukan hubungan antara motivasi belanja hedonis, emosi positif, dan pembelian impulsif di toko duty-free. Penelitian itu juga menguji peran musik dan pencahayaan sebagai faktor lingkungan yang dapat memengaruhi hubungan tersebut.

Emerald Publishing

Namun, temuan itu tidak berarti musik, aroma, pencahayaan, atau dekorasi mewah pasti meningkatkan penjualan di setiap toko bandara. Pengaruh lingkungan dapat berbeda menurut kategori produk, karakteristik penumpang, tingkat kepadatan, dan tujuan perjalanan. Suasana yang menyenangkan mungkin mendukung penjelajahan produk, tetapi tidak bisa menggantikan kualitas, harga yang masuk akal, dan relevansi barang bagi konsumen.

Bagi operator, implikasi praktisnya bukan sekadar menciptakan toko yang terlihat mewah. Lingkungan belanja perlu terasa nyaman, mudah dipahami, dan tidak menambah stres perjalanan. Informasi harga yang jelas, pelayanan yang efisien, pencahayaan yang memadai, dan staf yang membantu dapat memberikan pengalaman positif sekaligus menjaga kepercayaan konsumen. Dalam bisnis bandara, pengalaman komersial yang baik semestinya melengkapi pengalaman perjalanan, bukan mengganggunya.

6. Mengapa Satu Pembelian Bisa Memicu Pembelian Berikutnya?

Keputusan belanja juga dapat berlangsung secara berurutan. Seseorang yang awalnya hanya membeli kopi mungkin kemudian melihat makanan ringan, suvenir, atau produk lain di toko yang berdekatan. Dalam literatur perilaku konsumen, fenomena ini berkaitan dengan shopping momentum: pembelian pertama dapat berhubungan dengan kecenderungan melakukan pembelian berikutnya dalam situasi tertentu.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Business Research pada 2021 menganalisis 279.000 kartu boarding penumpang di tiga terminal Bandara Internasional Dubai. Penelitian tersebut menguji hubungan antara pembelian pertama, jarak berjalan, waktu yang tersedia untuk berbelanja, kepadatan, metode pembayaran, promosi, dan karakteristik produk dengan kemungkinan pembelian berurutan. Studi ini memberikan bukti dari transaksi nyata bahwa perilaku belanja lanjutan di bandara layak dianalisis melalui gabungan faktor perjalanan dan faktor transaksi. Namun, jumlah data yang besar tidak berarti semua faktor yang diamati otomatis menyebabkan pembelian berikutnya.

ScienceDirect

Bagi pengelola area komersial, temuan ini membuka peluang untuk menguji kombinasi kategori yang saling melengkapi. Misalnya, toko produk lokal dapat ditempatkan berdekatan dengan area makanan atau suvenir, sementara produk perjalanan berukuran kecil dapat ditawarkan di lokasi yang mudah dijangkau. Akan tetapi, strategi tersebut perlu diuji melalui data transaksi dan pengamatan arus penumpang. Kedekatan toko tidak selalu menghasilkan pembelian tambahan apabila kategori produknya tidak relevan atau perjalanan menuju gerbang terasa mendesak.

7. Membedakan Temuan Riset dan Hipotesis Pemasaran

Psikologi belanja bandara sering dijelaskan melalui narasi yang terdengar masuk akal: penumpang bosan, waktu tunggu membuat mereka berbelanja, atau suasana liburan membuat mereka lebih mudah mengeluarkan uang. Penjelasan seperti ini dapat menjadi titik awal untuk menyusun hipotesis, tetapi tidak seharusnya langsung diperlakukan sebagai fakta universal.

Literatur yang tersedia justru memperlihatkan perilaku yang lebih beragam. Penelitian tentang motivasi belanja penumpang di Bandara Taoyuan menemukan bahwa kemudahan mengambil keputusan merupakan faktor penting dalam pencarian informasi, sementara waktu luang sebelum boarding dan perjalanan bersama orang lain memengaruhi perilaku kelompok penumpang secara berbeda. Studi lain tentang pembelian impulsif di Bandara Tan Son Nhat, Vietnam, melibatkan 166 responden yang telah berbelanja dan menemukan bahwa kecenderungan impulsif berkaitan dengan aktivitas menjelajahi toko, tetapi aktivitas menjelajah tidak selalu berujung pada pembelian impulsif.

ScienceDirect
+1

Untuk menerapkan hasil riset secara bertanggung jawab, pengelola bandara dapat membedakan tiga tingkatan bukti:

  • Temuan empiris: hasil yang benar-benar teramati dalam penelitian, misalnya hubungan antara emosi positif dan pembelian impulsif pada sampel tertentu.

  • Interpretasi: penjelasan yang masuk akal mengenai mengapa hubungan tersebut mungkin terjadi, tetapi belum tentu membuktikan mekanisme penyebabnya.

  • Hipotesis operasional: dugaan yang akan diuji di terminal tertentu, misalnya penempatan produk hadiah dekat jalur menuju ruang tunggu meningkatkan konversi penjualan.

Pembedaan ini penting karena hasil dari satu bandara tidak selalu berlaku di bandara lain. Perbedaan komposisi penumpang, rute domestik dan internasional, daya beli, merek yang tersedia, kebijakan duty-free, dan struktur terminal dapat menghasilkan pola belanja yang berbeda. Strategi komersial yang kuat harus menggabungkan penelitian terdahulu dengan pengukuran lokal.

Implikasi bagi Bisnis Non-Aero Bandara

Dari sudut pandang pengelolaan pendapatan non-aero, pertanyaan yang lebih berguna bukan hanya mengapa penumpang membeli barang yang tidak direncanakan, tetapi juga kondisi apa yang membuat penumpang menemukan produk yang relevan, merasa nyaman membelinya, dan menyelesaikan transaksi tanpa mengganggu perjalanan.

Operator dapat menguji sejumlah indikator secara terstruktur, seperti durasi kunjungan toko, rasio pengunjung yang melakukan pembelian, nilai transaksi rata-rata, kategori produk yang paling sering dibeli bersama, serta pengaruh jarak toko dari jalur pergerakan penumpang. Data tersebut dapat dibandingkan berdasarkan jam keberangkatan, jenis penerbangan, kelompok produk, atau periode promosi. Dengan cara ini, keputusan mengenai tata letak, bauran produk, dan penawaran tidak hanya didasarkan pada intuisi.

Pendekatan tersebut juga mengingatkan bahwa penjualan lebih tinggi tidak selalu identik dengan pengalaman yang lebih baik. Penumpang yang merasa harga terlalu mahal, kesulitan menemukan gerbang, atau tertekan oleh promosi agresif mungkin menyelesaikan transaksi, tetapi belum tentu memiliki persepsi positif terhadap bandara. Tujuan yang lebih berkelanjutan adalah menciptakan nilai komersial melalui kenyamanan, relevansi, transparansi harga, dan kemudahan akses.

Kesimpulan

Pembelian tidak terencana di bandara merupakan hasil interaksi antara kondisi perjalanan, waktu yang tersedia, visibilitas toko, emosi, motivasi pribadi, dan karakteristik produk. Riset akademik mendukung pentingnya sejumlah faktor tersebut, tetapi tidak membenarkan anggapan bahwa seluruh penumpang mudah terpengaruh atau bahwa semakin lama waktu tunggu selalu menghasilkan belanja yang lebih tinggi.

Bagi Non Aero Institute, pelajaran utamanya adalah melihat perilaku belanja sebagai bagian dari desain ekosistem komersial bandara. Penumpang perlu diberi kesempatan menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan, suasana perjalanan, atau keinginan memberi hadiah. Ketika pemahaman psikologi konsumen dipadukan dengan data transaksi dan pengelolaan arus penumpang, bisnis ritel bandara dapat meningkatkan peluang pendapatan tanpa bergantung pada asumsi psikologis yang belum teruji.

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Artikel Non AeroBlog

Apa yang Bisa Dipelajari Mall, Rumah Sakit, dan Hotel dari Manajemen Arus Penumpang Bandara?

Bandara merupakan salah satu lingkungan layanan paling kompleks karena harus mengelola pergerakan...

BlogArtikel Non Aero

Amazon Tidak Hanya Menjual Barang: Pelajaran tentang Monetisasi Infrastruktur dan Ekosistem

Amazon dikenal sebagai salah satu perusahaan e-commerce terbesar di dunia. Namun, melihat...

BlogArtikel Non Aero

Bandara sebagai Media Network: Potensi Bisnis Iklan, Data Audiens, dan Digital Out-of-Home

Bandara selama ini dikenal sebagai infrastruktur transportasi yang menghubungkan manusia dan berbagai...

BlogArtikel Non Aero

Di Balik Landasan Pacu: Mengapa Bisnis Kargo, Logistik, dan Pergudangan Penting bagi Ekonomi Bandara?

Ketika membicarakan bisnis bandara, perhatian publik biasanya tertuju pada jumlah penumpang, maskapai,...