Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka merupakan salah satu contoh paling menarik untuk memahami tantangan pengembangan bandara di Indonesia. Infrastruktur yang besar, lokasi strategis, dan dukungan pemerintah tidak otomatis menghasilkan volume penumpang yang memadai. Bandara juga membutuhkan jaringan penerbangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, akses darat yang praktis, serta aktivitas ekonomi yang mampu menopang operasionalnya. Ketika jumlah penerbangan belum berkembang sesuai kapasitas, persoalannya bukan hanya bagaimana menarik maskapai, tetapi juga bagaimana membangun ekosistem permintaan yang membuat bandara relevan bagi penumpang dan pelaku bisnis.
Kini, Kertajati memiliki peluang untuk mengembangkan strategi yang lebih luas melalui Kertajati Aerospace Park. Kawasan ini dirancang untuk mendukung industri perawatan pesawat, manufaktur, pelatihan, dan aktivitas kedirgantaraan lainnya. Pendekatan tersebut membuka kemungkinan bagi Kertajati untuk tidak hanya mengandalkan pendapatan dari penerbangan penumpang, tetapi juga memperoleh aktivitas ekonomi dari industri yang membutuhkan akses langsung ke infrastruktur bandara. Namun, keberhasilan transformasi tersebut akan ditentukan oleh realisasi investasi, kepastian mitra industri, konektivitas, dan kemampuan mengubah rencana pengembangan menjadi kegiatan usaha yang produktif.
1. Kertajati dan Persoalan Kapasitas yang Belum Terpakai
Kertajati dirancang sebagai bandara internasional dengan landasan pacu sepanjang 3.000 meter dan fasilitas terminal yang mendukung pengembangan konektivitas udara. Akan tetapi, besarnya infrastruktur belum sebanding dengan pemanfaatannya. Dalam publikasi pada April 2025, Kementerian PPN/Bappenas menyebut utilisasi bandara baru mencapai 6,42%. Angka tersebut menunjukkan adanya kesenjangan besar antara kapasitas yang tersedia dan aktivitas yang berhasil ditarik ke bandara.
Data Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa Kertajati melayani 413.240 pergerakan penumpang sepanjang 2024, meningkat sekitar tiga kali lipat dibandingkan 135.535 pada 2023. Namun, data operasional Kementerian Perhubungan untuk 2025 mencatat hanya 47.997 penumpang. Perbedaan yang tajam ini menunjukkan bahwa aktivitas penumpang masih rentan terhadap perubahan jaringan penerbangan dan jadwal operasi. Angka tersebut juga memperlihatkan mengapa pertumbuhan pada satu tahun belum cukup untuk membuktikan bahwa permintaan telah terbentuk secara berkelanjutan.
2. Konektivitas: Faktor yang Menentukan Apakah Penumpang Mau Datang
Salah satu tantangan utama Kertajati adalah memastikan bahwa lokasi bandara benar-benar praktis bagi masyarakat yang dilayaninya. Jarak geografis bukan satu-satunya faktor yang menentukan pilihan bandara. Penumpang juga mempertimbangkan waktu tempuh, biaya transportasi, frekuensi penerbangan, pilihan maskapai, dan kepastian perjalanan. Jika akses darat membutuhkan waktu atau biaya tambahan yang signifikan, penerbangan dari bandara lain dapat terasa lebih menarik, bahkan ketika Kertajati memiliki infrastruktur yang memadai.
Keberadaan Tol Cisumdawu dan Tol Cipali memberikan dukungan konektivitas bagi kawasan Kertajati dan wilayah sekitarnya. Bandara juga berada dalam konteks pengembangan Rebana Metropolitan, yang menghubungkan sejumlah kawasan industri dan pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat. Namun, infrastruktur jalan saja tidak cukup. Layanan bus yang terjadwal, integrasi dengan transportasi antarkota, kemudahan pemesanan, dan koneksi menuju pusat-pusat permukiman perlu dirancang agar perjalanan menuju bandara benar-benar praktis.
3. Tantangan Investasi dan Keberlanjutan Keuangan
Persoalan Kertajati bukan hanya rendahnya jumlah penumpang, melainkan juga bagaimana pendapatan dapat menutup biaya operasional dan kewajiban keuangan perusahaan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyampaikan pada Januari 2026 bahwa pendapatan usaha BIJB belum mampu menutupi biaya operasional. Pada Desember 2025, liabilitas jangka pendek perusahaan tercatat sekitar Rp474 miliar, sementara liabilitas jangka panjang mencapai Rp1,5 triliun. Angka ini menunjukkan besarnya tantangan keuangan yang harus ditangani bersamaan dengan rencana pengembangan bisnis.
Situasi tersebut membuat strategi investasi perlu mempertimbangkan kemampuan proyek menghasilkan arus kas, bukan hanya potensi ekonomi jangka panjang. Pengembangan kawasan industri bisa membuka sumber pendapatan baru, tetapi juga membutuhkan belanja modal, kepastian penyewa, infrastruktur pendukung, dan waktu untuk mencapai skala usaha yang memadai. Karena itu, pengembangan Kertajati perlu menggabungkan target jangka pendek—seperti meningkatkan penerbangan dan utilisasi fasilitas yang sudah ada—dengan investasi jangka panjang yang memiliki mitra, jadwal, dan model bisnis yang jelas.
4. Aerospace Park: Peluang Mengubah Kertajati Menjadi Pusat Industri Dirgantara
Pengembangan Kertajati Aerospace Park memberikan arah baru bagi masa depan bandara. Pada April 2025, Kementerian PPN/Bappenas, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF), dan BIJB menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat pengembangan kawasan kedirgantaraan tersebut. Kawasan yang direncanakan seluas sekitar 84,2 hektare ini diarahkan menjadi pusat Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO), yaitu kegiatan perawatan, perbaikan, dan pemeriksaan pesawat. Rancangannya juga mencakup fasilitas pendukung yang berkaitan dengan industri penerbangan.
Peluang bisnisnya berkaitan dengan kebutuhan industri penerbangan Indonesia terhadap layanan perawatan pesawat. Bappenas pada 2025 menyebut sekitar 46% kebutuhan MRO Indonesia masih dilayani di luar negeri. Kondisi ini membuka peluang untuk memperkuat kemampuan industri domestik, meskipun tidak berarti seluruh permintaan tersebut dapat langsung dialihkan ke Kertajati. Realisasinya bergantung pada kesiapan fasilitas, sertifikasi, kemampuan teknis, dukungan produsen pesawat dan komponen, serta keputusan maskapai mengenai mitra perawatan mereka.
5. Dari MRO ke Ekosistem Industri Kedirgantaraan
Pengembangan Aerospace Park tidak berhenti pada fasilitas perawatan pesawat. Pada November 2025, GMF dan BIJB menandatangani kerja sama operasi untuk mengembangkan kawasan terpadu tersebut, dengan GMF direncanakan berperan sebagai anchor tenant atau penggerak utama aktivitas kawasan. Rencana pengembangan mencakup fasilitas MRO pesawat komersial dan pertahanan, bengkel mesin dan komponen, zona manufaktur, pusat pelatihan dan riset, serta pusat bisnis.
Pada Juli 2026, BIJB dan PT Dirgantara Indonesia juga menandatangani nota kesepahaman untuk mengembangkan Kertajati sebagai pusat industri kedirgantaraan nasional. Rencana tersebut mencakup pemanfaatan bandara untuk kegiatan uji terbang, pengembangan pesawat, serta kemungkinan pengembangan manufaktur dan layanan rekayasa secara bertahap. Perkembangan ini memperluas potensi Kertajati dari bandara penumpang menjadi bagian dari rantai nilai industri dirgantara. Namun, nota kesepahaman dan rencana investasi tetap perlu dibedakan dari fasilitas yang telah beroperasi dan pendapatan yang sudah terealisasi.
6. Diversifikasi Pendapatan: Mengurangi Ketergantungan pada Penumpang
Bandara pada dasarnya dapat memperoleh pendapatan dari dua kelompok aktivitas. Pertama, pendapatan aeronautika yang berkaitan dengan layanan penerbangan. Kedua, pendapatan non-aeronautika yang dapat berasal dari penyewaan ruang, pergudangan, logistik, parkir, periklanan, fasilitas komersial, serta pemanfaatan kawasan untuk aktivitas bisnis. Bagi Kertajati, diversifikasi menjadi relevan karena rendahnya lalu lintas penumpang membuat pengembangan sumber pendapatan alternatif semakin penting.
Aerospace Park dapat membuka peluang sewa lahan dan hanggar, layanan MRO, fasilitas industri, serta kegiatan pendukung yang melibatkan pemasok dan perusahaan lain. Akan tetapi, diversifikasi bukan berarti bandara dapat mengabaikan pengembangan penerbangan penumpang. Kedua aktivitas justru dapat saling mendukung: penerbangan membangun konektivitas, sedangkan industri dirgantara menciptakan alasan ekonomi tambahan bagi perusahaan untuk beroperasi di kawasan tersebut. Keseimbangan inilah yang perlu dikejar agar diversifikasi benar-benar memperkuat keberlanjutan usaha.
7. Tantangan Membangun Ekosistem yang Berkelanjutan
Pengembangan kawasan industri tidak otomatis menjamin keberhasilan bandara. Kertajati tetap membutuhkan kepastian investasi, pembagian risiko yang jelas, akses transportasi, tenaga kerja terampil, utilitas yang memadai, dan regulasi yang mendukung aktivitas industri. Selain itu, perusahaan MRO dan manufaktur membutuhkan pelanggan serta kontrak yang cukup untuk menjaga utilisasi fasilitas. Tanpa permintaan yang nyata, kawasan berisiko memiliki infrastruktur besar tetapi kegiatan bisnis yang belum mencapai skala ekonomis.
Karena itu, keberhasilan transformasi Kertajati perlu dinilai melalui indikator yang terukur, seperti pertumbuhan penumpang, jumlah penerbangan reguler, utilisasi fasilitas MRO, realisasi investasi, luas lahan yang telah digunakan secara produktif, serta pendapatan dari kegiatan non-aeronautika. Penyerapan tenaga kerja dan keterlibatan pemasok lokal juga penting untuk menilai dampak ekonominya terhadap Majalengka dan kawasan Rebana. Indikator-indikator tersebut akan membantu membedakan kemajuan administratif dari perkembangan bisnis yang benar-benar menghasilkan nilai.
Kesimpulan: Menghidupkan Kertajati dengan Membangun Permintaan dan Ekosistem
Kertajati menghadapi tantangan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah penerbangan atau membangun fasilitas baru. Bandara ini membutuhkan permintaan penumpang yang lebih stabil, konektivitas darat yang praktis, dan sumber pendapatan yang lebih beragam. Data penumpang 2024 dan 2025 memperlihatkan betapa rentannya aktivitas bandara ketika jaringan penerbangan belum berkembang secara berkelanjutan. Pada saat yang sama, tekanan keuangan BIJB menegaskan pentingnya pengembangan bisnis yang mempertimbangkan arus kas dan realisasi permintaan.
Aerospace Park memberikan peluang untuk mengubah arah pengembangan tersebut. Melalui MRO, manufaktur, riset, pelatihan, dan kerja sama dengan pelaku industri seperti GMF serta PT Dirgantara Indonesia, Kertajati berpotensi berkembang menjadi pusat aktivitas kedirgantaraan yang mendukung industri nasional. Namun, peluang itu baru akan menjadi keunggulan nyata jika investasi benar-benar terealisasi, fasilitas digunakan secara produktif, dan perusahaan memperoleh pelanggan yang berkelanjutan. Masa depan Kertajati pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak pesawat yang mendarat, tetapi juga oleh seberapa besar aktivitas ekonomi yang tumbuh dan bertahan di sekelilingnya.

Leave a comment