Kesalahan paling umum dalam pengelolaan ruang komersial bandara adalah mengukur keberhasilan dari jumlah tenant yang masuk. Padahal yang menentukan performa bukan kuantitas, melainkan komposisi dan urutan penempatannya.
Tenant mix adalah ilmu menyusun siapa berada di mana, bersebelahan dengan siapa, dan berada di jalur pergerakan penumpang yang seperti apa. Susunan ini menentukan apakah penumpang hanya lewat, atau benar-benar terlibat secara komersial.
Penumpang tidak bergerak secara acak. Mereka mengikuti pola yang bisa diprediksi sejak turun dari pemeriksaan keamanan hingga tiba di gate. Di sepanjang jalur ini, ada titik-titik di mana langkah melambat, perhatian meningkat, dan keputusan spontan sering terjadi.
Titik-titik inilah yang menjadi lokasi paling bernilai. Tenant yang ditempatkan di sana harus dipilih dengan sangat strategis, karena mereka berfungsi sebagai penggerak interaksi pertama.
Dalam tenant mix, ada tenant yang berfungsi sebagai penarik arus perhatian, seperti brand populer atau konsep visual yang kuat. Ada pula tenant penopang yang memanfaatkan arus tersebut untuk menghasilkan transaksi.
Ketika keduanya ditempatkan berdekatan secara tepat, efeknya saling menguatkan. Penumpang yang tertarik melihat satu toko akan dengan mudah melanjutkan interaksi ke toko di sebelahnya.
Tidak semua area terminal memiliki nilai yang sama. Ada zona cepat di mana penumpang cenderung berjalan terburu-buru, dan ada zona lambat di mana mereka cenderung berhenti. Tenant yang ditempatkan di masing-masing zona harus disesuaikan dengan karakter pergerakan ini.
Produk impulsif cocok di zona cepat. Konsep yang membutuhkan waktu eksplorasi lebih cocok di zona lambat. Ketidaksesuaian antara jenis tenant dan karakter zona sering menjadi penyebab rendahnya performa.
Area duduk bukan sekadar fasilitas kenyamanan, tetapi alat strategis dalam tenant mix. Penumpang yang duduk cenderung mengamati sekitar lebih lama. Jika di hadapannya terdapat etalase ritel atau kafe, kemungkinan interaksi meningkat drastis.
Pandangan terbuka ke dalam toko, pencahayaan yang mengundang, dan jarak yang nyaman menjadi bagian dari strategi ini.
Tenant mix yang efektif tidak dibangun dari intuisi, tetapi dari data pergerakan penumpang, durasi tinggal, dan pola interaksi. Data ini membantu menentukan kategori tenant apa yang paling cocok di titik tertentu.
Dengan pendekatan ini, penyusunan tenant menjadi keputusan strategis, bukan sekadar administratif.
Ketika tenant mix tersusun dengan benar, yang terbentuk bukan deretan toko, melainkan ekosistem ritel yang hidup. Setiap tenant mendapat manfaat dari keberadaan tenant lainnya.
Penumpang pun merasakan pengalaman yang mengalir alami, tanpa merasa sedang diarahkan untuk berbelanja.
Banyak bandara fokus pada desain fisik terminal, tetapi melupakan desain komersial di dalamnya. Padahal tenant mix adalah fondasi dari performa non-aero.
Susunan yang tepat mampu mengubah arus penumpang biasa menjadi arus transaksi yang konsisten. Dan di situlah nilai ekonomi terminal benar-benar muncul.
Terminal yang Dirancang Seperti Jalan Belanja Di Dubai International Airport, penumpang berjalan...
Byadmin17/02/2026Konsesi Bukan Sekadar Sewa Ruang Di banyak bandara, hubungan antara pengelola dan...
Byadmin15/02/2026Bandara Bukan Sekadar Lokasi, Tapi Kualitas Pengunjung Brand sering memilih mal karena...
Byadmin13/02/2026Bandara Indonesia Ramai, Tapi Belum Tentu Produktif Indonesia memiliki lalu lintas penumpang...
Byadmin10/02/2026
Leave a comment