Indonesia memiliki lalu lintas penumpang yang tinggi di banyak bandara utama. Arus wisata, perjalanan bisnis, dan mobilitas antar pulau menciptakan kepadatan yang secara teori sangat ideal untuk bisnis non-aeronautika. Namun kepadatan ini belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi produktivitas komersial di dalam terminal.
Di banyak kasus, penumpang hanya lewat. Mereka berjalan cepat menuju gate, duduk menunggu, lalu terbang tanpa banyak interaksi dengan ruang komersial di sekitarnya. Potensi ada, tetapi belum dikelola sebagai strategi.
Beberapa bandara seperti Soekarno-Hatta International Airport Terminal 3, I Gusti Ngurah Rai International Airport, Yogyakarta International Airport, dan Kualanamu International Airport sudah memiliki infrastruktur fisik yang sangat baik. Ruang luas, arsitektur modern, dan fasilitas yang memadai seharusnya menjadi fondasi kuat untuk non-aero.
Namun tanpa pendekatan berbasis perilaku penumpang, tenant mix yang strategis, dan pengelolaan dwell time, ruang modern ini belum bekerja optimal sebagai mesin bisnis.
Penumpang di bandara Indonesia memiliki karakter yang sangat menarik untuk bisnis. Wisatawan domestik dan mancanegara datang dengan suasana hati yang positif. Banyak yang membawa keluarga, memiliki waktu tunggu panjang, dan tertarik pada produk lokal.
Kondisi ini sangat ideal untuk ritel, makanan dan minuman, serta produk khas daerah. Sayangnya, potensi ini sering kali belum diterjemahkan menjadi konsep komersial yang kuat dan terkurasi.
Di banyak bandara, ruang komersial masih dianggap sebagai pelengkap operasional, bukan sebagai strategi utama pendapatan. Tenant ditempatkan berdasarkan ketersediaan ruang, bukan berdasarkan peta pergerakan penumpang.
Akibatnya, ada area yang terlalu ramai tetapi minim interaksi komersial, dan ada area komersial yang sepi karena tidak berada di jalur alami penumpang.
Bandara dengan karakter pariwisata seperti Bali dan Yogyakarta memiliki peluang yang jauh lebih besar. Wisatawan cenderung mencari oleh-oleh, makanan khas, dan pengalaman lokal sebelum pulang. Terminal seharusnya menjadi etalase budaya dan produk daerah yang kuat secara komersial.
Ketika ruang komersial dirancang dengan pendekatan ini, bandara bukan hanya menjadi gerbang masuk, tetapi juga gerbang belanja terakhir sebelum wisatawan kembali ke negaranya.
Potensi non-aero di Indonesia tidak akan maksimal hanya dengan menambah jumlah tenant. Dibutuhkan pendekatan berbasis riset perilaku penumpang, pemetaan pergerakan, dan strategi tenant mix yang tepat.
Inilah celah yang masih sangat terbuka. Ketika pengelolaan komersial mulai didasarkan pada data dan strategi, bukan sekadar penyewaan ruang, produktivitas terminal akan berubah drastis.
Bandara Indonesia sudah memiliki semua bahan utama: penumpang yang banyak, ruang yang modern, dan konteks pariwisata yang kuat. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang dalam mengelola ruang komersial.
Ketika terminal diperlakukan sebagai mesin ekonomi berbasis perilaku manusia, potensi non-aeronautika yang selama ini tersembunyi dapat muncul sebagai sumber pendapatan yang signifikan dan berkelanjutan.
Ketika Waktu Menjadi Aset Paling Berharga Di terminal bandara, semua orang menunggu....
Byadmin07/02/2026Bandara yang Terasa Seperti Destinasi Wisata Di Jewel Changi Airport, orang datang...
Byadmin04/02/2026Bandara Bukan Lagi Tempat Pesawat Mendarat Selama puluhan tahun, publik memahami bandara...
Byadmin02/02/2026Bagi sebagian orang, bandara identik dengan antrean panjang dan ruang tunggu penuh...
Byadmin28/01/2026
Leave a comment