Artikel Non Aero

Model Konsesi Ideal untuk Mengembangkan Bisnis Non-Aero di Bandara

Konsesi Bukan Sekadar Sewa Ruang

Di banyak bandara, hubungan antara pengelola dan tenant masih dipahami sebagai hubungan pemilik ruang dan penyewa. Padahal dalam konteks non-aero modern, konsesi seharusnya dipandang sebagai kemitraan bisnis jangka panjang yang saling menguntungkan.

Ruang di terminal bukan komoditas biasa. Nilainya sangat dipengaruhi oleh arus penumpang, desain sirkulasi, dan strategi komersial bandara. Karena itu, skema konsesi tidak bisa disamakan dengan penyewaan ruang di gedung komersial biasa.

Keseimbangan Risiko dan Potensi

Model konsesi ideal membagi risiko dan potensi antara pengelola bandara dan tenant. Skema berbasis persentase penjualan, minimum guarantee, atau kombinasi keduanya sering digunakan untuk memastikan kedua pihak memiliki kepentingan yang sama dalam meningkatkan performa penjualan.

Ketika tenant berhasil, bandara ikut mendapatkan manfaat. Ketika performa turun, kedua pihak terdorong untuk memperbaiki strategi bersama, bukan saling menyalahkan.

Pentingnya Zonasi Komersial dalam Kontrak

Kontrak konsesi yang baik tidak hanya mengatur durasi dan biaya, tetapi juga mempertimbangkan zonasi komersial. Lokasi tenant di dalam terminal sangat menentukan performa bisnisnya.

Karena itu, pemahaman tentang passenger flow, dwell time, dan karakter area harus menjadi bagian dari perjanjian, bukan sekadar keputusan operasional sepihak. Zonasi yang tepat adalah fondasi keberhasilan konsesi.

Seleksi Tenant Berbasis Strategi, Bukan Ketersediaan

Model konsesi ideal menempatkan proses seleksi tenant sebagai bagian dari strategi komersial bandara. Tenant dipilih bukan hanya karena mampu membayar sewa, tetapi karena relevan dengan profil penumpang dan melengkapi komposisi tenant lainnya.

Pendekatan ini menghasilkan tenant mix yang saling mendukung, menciptakan ekosistem ritel yang hidup dan produktif.

Peran Pengelola Bandara sebagai Kurator Bisnis

Dalam model modern, pengelola bandara tidak lagi pasif menunggu penyewa, tetapi aktif sebagai kurator bisnis. Mereka memantau performa tenant, mengatur rotasi, dan melakukan evaluasi berkala untuk menjaga kualitas pengalaman penumpang.

Peran ini membuat konsesi menjadi dinamis, bukan statis selama masa kontrak.

Transparansi Data sebagai Dasar Evaluasi

Konsesi yang sehat membutuhkan transparansi data penjualan dan pergerakan penumpang. Data ini menjadi dasar evaluasi performa dan pengambilan keputusan bersama.

Dengan pendekatan berbasis data, diskusi antara pengelola dan tenant menjadi objektif dan berorientasi solusi.

Membangun Ekosistem, Bukan Deretan Toko

Tujuan akhir dari model konsesi ideal adalah membangun ekosistem bisnis di dalam terminal. Setiap tenant bukan berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari pengalaman penumpang secara keseluruhan.

Ketika ekosistem ini terbentuk, nilai komersial terminal meningkat secara menyeluruh, bukan hanya di satu titik.

Fondasi Tata Kelola Non-Aero yang Berkelanjutan

Skema konsesi yang dirancang dengan baik menjadi fondasi tata kelola non-aeronautika yang berkelanjutan. Ia memastikan bahwa ruang komersial di bandara terus berkembang mengikuti perilaku penumpang dan kebutuhan pasar.

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Artikel Non Aero

Kenapa Brand Anda Harus Masuk Bandara? Ini Hitung-Hitungannya

Bandara Bukan Sekadar Lokasi, Tapi Kualitas Pengunjung Brand sering memilih mal karena...

Artikel Non Aero

Potensi Non-Aero Bandara Indonesia yang Belum Tergarap Maksimal

Bandara Indonesia Ramai, Tapi Belum Tentu Produktif Indonesia memiliki lalu lintas penumpang...

Artikel Non Aero

Dwell Time: Emas Tersembunyi dalam Bisnis Non-Aero

Ketika Waktu Menjadi Aset Paling Berharga Di terminal bandara, semua orang menunggu....

Artikel Non Aero

Apa Rahasia Changi Bisa Menghasilkan Miliaran dari Non-Aero?

Bandara yang Terasa Seperti Destinasi Wisata Di Jewel Changi Airport, orang datang...