Selama bertahun-tahun, hubungan antara bandara dan pelaku usaha di dalamnya berjalan sederhana: bandara menyediakan ruang, tenant membayar sewa. Model ini stabil, mudah dihitung, dan minim risiko bagi pengelola bandara. Namun, seiring berubahnya perilaku penumpang dan tekanan efisiensi, pola lama mulai menunjukkan keterbatasannya.
Hari ini, semakin banyak bandara menyadari bahwa tenant bandara bukan sekadar penyewa ruang, melainkan bagian dari ekosistem pengalaman penumpang. Dari sinilah muncul pergeseran penting: dari hubungan transaksional menuju kerja sama non-aero berbasis kemitraan.
Model Sewa: Stabil tapi Tidak Selalu Adaptif
Model sewa konvensional memberikan kepastian pendapatan bagi bandara. Namun kepastian ini sering datang dengan konsekuensi: minimnya fleksibilitas. Ketika trafik turun atau perilaku penumpang berubah, tenant menanggung risiko penjualan, sementara bandara tetap menerima sewa.
Dalam kondisi tertentu, pola ini justru menciptakan ketegangan. Tenant kesulitan bertahan, ruang menjadi tidak optimal, dan pengalaman penumpang ikut terdampak. Bandara pun kehilangan peluang untuk tumbuh bersama tenantnya.
Revenue Sharing: Menyelaraskan Kepentingan
Pergeseran menuju revenue sharing mengubah relasi dasar antara bandara dan tenant. Pendapatan bandara tidak lagi hanya berasal dari sewa tetap, tetapi ikut bergantung pada performa bisnis tenant.
Model ini menciptakan penyelarasan kepentingan:
-
bandara terdorong membantu meningkatkan traffic dan dwell time
-
tenant merasa tidak berjalan sendiri
-
risiko dan peluang dibagi secara lebih seimbang
Dalam konteks kerja sama non-aero, revenue sharing membuka ruang dialog yang lebih sehat tentang layout, promosi, dan pengalaman penumpang.
Co-Creation: Ketika Ruang Menjadi Produk Bersama
Tahap berikutnya dari evolusi ini adalah co-creation. Di sini, bandara dan tenant tidak hanya berbagi pendapatan, tetapi menciptakan konsep bersama sejak awal.
Co-creation memungkinkan:
-
konsep yang lebih kontekstual dengan karakter penumpang
-
desain ruang yang menyatu dengan alur terminal
-
inovasi layanan yang sulit dicapai jika berjalan sendiri
Dalam pendekatan ini, tenant bandara dipilih bukan hanya karena kemampuan membayar, tetapi karena kesesuaian nilai, brand, dan pengalaman yang ditawarkan.
Mengapa Pergeseran Ini Tak Terhindarkan
Perubahan perilaku penumpang membuat pengalaman menjadi kunci. Penumpang tidak lagi sekadar mencari produk, tetapi kemudahan, kenyamanan, dan relevansi. Bandara yang masih memandang tenant sebagai “pengisi ruang” berisiko tertinggal.
Selain itu, tekanan efisiensi memaksa bandara untuk:
-
memaksimalkan setiap meter ruang
-
memastikan ruang komersial benar-benar hidup
-
mengurangi ruang kosong yang tidak produktif
Kerja sama non-aero berbasis kemitraan memberikan bandara fleksibilitas untuk beradaptasi tanpa harus selalu melakukan investasi besar.
Dampak bagi Bandara Kecil dan Menengah
Bagi bandara kecil dan menengah, model kemitraan justru bisa menjadi keunggulan. Dengan skala yang lebih ramping, proses co-creation dan revenue sharing dapat dilakukan lebih cepat dan personal.
Pendekatan ini memungkinkan bandara:
-
menggandeng UMKM lokal
-
menciptakan diferensiasi berbasis kearifan lokal
-
membangun ekosistem ekonomi sekitar bandara
Tenant tidak hanya berjualan, tetapi ikut membentuk identitas bandara itu sendiri.
Penutup: Masa Depan Non-Aero adalah Kolaborasi
Evolusi dari tenant ke partner menandai perubahan cara pandang yang mendasar. Non-aero tidak lagi sekadar sumber pendapatan tambahan, melainkan hasil dari kolaborasi strategis antara bandara dan pelaku usaha.
Di masa depan, bandara yang kuat bukan hanya yang memiliki trafik tinggi, tetapi yang mampu membangun kerja sama non-aero yang saling menguntungkan, adaptif, dan berbasis pengalaman manusia.
Karena ketika bandara dan tenant tumbuh bersama, ruang komersial tidak lagi sekadar tempat berjualan—melainkan bagian dari perjalanan penumpang itu sendiri.
Leave a comment