Bandara di destinasi wisata memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki bandara lain: penumpangnya datang dengan emosi yang positif. Mereka baru saja berlibur, membawa pengalaman, kenangan, dan keinginan untuk membawa pulang sesuatu sebagai pengingat perjalanan.
Kondisi psikologis ini membuat wisatawan jauh lebih terbuka untuk berbelanja dibanding penumpang perjalanan bisnis biasa. Mereka tidak hanya menunggu penerbangan, tetapi sedang menutup cerita perjalanan mereka.
Di I Gusti Ngurah Rai International Airport, Yogyakarta International Airport, dan Komodo Airport, terminal seharusnya menjadi etalase terakhir dari kekayaan lokal. Produk kerajinan, makanan khas, fesyen tradisional, dan karya UMKM bisa menemukan panggung terbaiknya di sini.
Ketika wisatawan berada di menit-menit terakhir sebelum pulang, keinginan membeli oleh-oleh berada pada titik tertinggi. Terminal memiliki momen emas yang sangat jarang dimiliki ruang komersial lain.
Berbeda dengan mal yang menjual brand global seragam, bandara pariwisata memiliki kekuatan pada produk lokal yang unik. Batik di Yogyakarta, kerajinan tangan di Bali, suvenir khas Labuan Bajo, semuanya memiliki relevansi yang sangat kuat dengan pengalaman wisatawan.
Relevansi inilah yang mendorong keputusan pembelian spontan tanpa perlu promosi besar-besaran.
Wisatawan biasanya datang lebih awal ke bandara. Mereka memiliki waktu tunggu yang panjang, tidak terburu-buru, dan cenderung berjalan santai sambil melihat-lihat. Ini adalah kondisi ideal untuk interaksi komersial.
Ketika ruang ritel dirancang dengan baik, waktu tunggu ini berubah menjadi waktu belanja yang produktif.
Bandara pariwisata bisa menjadi pintu masuk UMKM ke pasar premium. Produk lokal yang mungkin sulit bersaing di pusat perbelanjaan kota, justru sangat diminati di bandara karena memiliki cerita dan konteks yang kuat.
Dengan kurasi yang tepat, terminal bisa menjadi galeri ekonomi kreatif daerah yang sekaligus menghasilkan pendapatan non-aero signifikan.
Momen terakhir sebelum boarding sering menjadi momen refleksi perjalanan. Ketika wisatawan menemukan produk yang mengingatkan mereka pada pengalaman selama liburan, keputusan membeli menjadi sangat emosional.
Belanja di bandara bukan lagi soal kebutuhan, tetapi soal kenangan.
Banyak bandara pariwisata di Indonesia belum sepenuhnya memanfaatkan momentum ini. Ruang komersial masih didominasi konsep umum yang tidak mencerminkan kekuatan lokal.
Padahal, dengan pendekatan yang tepat, bandara bisa menjadi surga non-aero yang hidup dari karakter wisatawan yang sangat ideal.
Ketika terminal diposisikan sebagai bagian dari pengalaman wisata, bukan sekadar gerbang keluar, maka perannya dalam ekosistem ekonomi daerah menjadi jauh lebih besar.
Di sinilah bandara pariwisata memiliki potensi luar biasa untuk mengubah non-aeronautika menjadi mesin ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.
Bukan Banyaknya Toko, Tapi Susunannya Kesalahan paling umum dalam pengelolaan ruang komersial...
Byadmin19/02/2026Terminal yang Dirancang Seperti Jalan Belanja Di Dubai International Airport, penumpang berjalan...
Byadmin17/02/2026Konsesi Bukan Sekadar Sewa Ruang Di banyak bandara, hubungan antara pengelola dan...
Byadmin15/02/2026Bandara Bukan Sekadar Lokasi, Tapi Kualitas Pengunjung Brand sering memilih mal karena...
Byadmin13/02/2026
Leave a comment