Blog

Apakah Bandara Perlu Memilih Tenant Berdasarkan Data, Bukan Nama Brand?

Selama bertahun-tahun, nama besar menjadi salah satu pertimbangan paling kuat dalam memilih tenant di pusat perbelanjaan, stasiun, hotel, maupun bandara. Brand yang sudah dikenal dianggap lebih aman: pelanggan sudah mengenalnya, reputasinya sudah terbentuk, produknya sudah teruji, dan kehadirannya dapat meningkatkan citra sebuah lokasi. Karena itu, ketika sebuah bandara memiliki kesempatan menghadirkan brand terkenal, keputusan tersebut sering terlihat mudah. Tetapi di tengah perubahan perilaku penumpang dan tuntutan peningkatan non-aero revenue, muncul pertanyaan yang semakin relevan: apakah brand besar selalu menjadi tenant terbaik bagi sebuah bandara?

Jawabannya belum tentu. Nama besar memang memiliki nilai, tetapi traffic penumpang tidak selalu sama dengan kecocokan tenant. Sebuah brand terkenal bisa memiliki awareness tinggi tetapi tidak cocok dengan profil penumpang tertentu, harga produknya terlalu tinggi, kebutuhan ruangnya besar, atau performanya tidak optimal pada karakter perjalanan tertentu. Sebaliknya, brand yang belum terlalu terkenal dapat menghasilkan transaksi yang lebih tinggi karena produknya lebih relevan, lebih cepat dilayani, lebih cocok untuk kebutuhan perjalanan, atau menawarkan sesuatu yang tidak tersedia di tempat lain.

Karena itu, masa depan pengelolaan tenant bandara kemungkinan akan semakin bergerak dari pendekatan “siapa brand-nya?” menuju pertanyaan yang lebih terukur: “seberapa besar nilai ekonomi dan pengalaman yang bisa diciptakan brand ini untuk penumpang dan bandara?”

Nama Besar Memang Penting, tetapi Bukan Satu-Satunya Ukuran

Brand terkenal memiliki sejumlah keuntungan yang nyata. Penumpang sudah mengenalnya sehingga biaya edukasi lebih rendah. Konsumen lebih cepat mempercayai produk. Brand juga dapat menjadi daya tarik tersendiri dan membantu membangun persepsi kualitas sebuah terminal.

Tetapi awareness tidak otomatis menghasilkan penjualan.

Bayangkan sebuah terminal memiliki dua restoran. Restoran pertama adalah brand nasional yang sangat terkenal. Restoran kedua adalah brand lokal yang belum banyak dikenal tetapi menawarkan makanan khas daerah dengan harga lebih terjangkau dan waktu penyajian lebih cepat.

Untuk penumpang yang memiliki waktu 45 menit sebelum boarding, restoran kedua mungkin justru lebih relevan.

Bagi pengelola bandara, pertanyaannya bukan lagi “mana yang lebih terkenal?”, tetapi:

“Mana yang memberikan nilai terbaik dalam konteks penumpang kita?”

Di sinilah data mulai memainkan peran penting.

Bandara Memiliki Data yang Tidak Dimiliki Banyak Retailer

Keunggulan bandara adalah jumlah dan jenis data yang dapat dikumpulkan sangat besar.

Pengelola dapat mengetahui jumlah penumpang, pola pergerakan, waktu sibuk, asal dan tujuan perjalanan, karakteristik terminal, lama waktu tunggu, hingga pola aktivitas di area tertentu.

Jika data tersebut dikombinasikan dengan performa tenant, bandara dapat mulai menjawab pertanyaan yang jauh lebih konkret:

Tenant mana yang paling banyak menghasilkan transaksi?

Tenant mana yang memiliki omzet tinggi tetapi menggunakan ruang terlalu besar?

Kategori produk apa yang paling dicari penumpang?

Pada jam berapa restoran paling ramai?

Berapa rata-rata nilai transaksi?

Berapa banyak penumpang yang melewati sebuah toko tetapi tidak masuk?

Tenant mana yang paling kuat pada penumpang domestik dan mana yang lebih kuat pada penumpang internasional?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih berguna untuk pengambilan keputusan dibandingkan sekadar melihat popularitas sebuah brand.

Ukuran yang Lebih Penting: Revenue per Passenger

Salah satu metrik yang menarik untuk airport retail adalah revenue per passenger (RPP).

Secara sederhana, metrik ini melihat seberapa besar pendapatan komersial yang dihasilkan dibandingkan jumlah penumpang.

Misalnya sebuah area memiliki 1 juta penumpang dalam periode tertentu. Jika total pendapatan komersial mencapai Rp50 miliar, maka revenue per passenger adalah Rp50. Angka tersebut dapat digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengevaluasi efektivitas strategi komersial.

Namun, RPP juga perlu dibaca bersama metrik lain.

Sebuah tenant mungkin menghasilkan omzet besar karena memiliki ruang sangat luas. Tenant lain menghasilkan omzet sedikit lebih kecil tetapi menggunakan ruang jauh lebih kecil.

Jika dihitung berdasarkan revenue per square meter, hasilnya bisa berbeda.

Karena itu, evaluasi tenant sebaiknya tidak hanya melihat:

“Berapa omzetnya?”

Tetapi juga:

“Berapa omzet dibandingkan luas ruang, traffic, waktu operasi, dan biaya yang digunakan?”

Revenue per Square Meter Bisa Membuka Cerita yang Berbeda

Bayangkan dua tenant.

Tenant A menghasilkan Rp10 miliar per tahun menggunakan area 500 m².

Tenant B menghasilkan Rp8 miliar menggunakan area 150 m².

Jika hanya melihat omzet, Tenant A terlihat lebih baik.

Tetapi jika menghitung produktivitas ruang:

Tenant A = Rp20 juta/m²/tahun.

Tenant B = sekitar Rp53,3 juta/m²/tahun.

Artinya Tenant B jauh lebih produktif dalam menggunakan ruang.

Ini menjadi sangat penting di bandara karena ruang terminal adalah aset yang sangat terbatas.

Setiap meter persegi memiliki opportunity cost. Jika sebuah area diberikan kepada tenant yang kurang produktif, bandara mungkin kehilangan potensi pendapatan dari tenant atau konsep lain.

Karena itu, pemilihan tenant berbasis data dapat membantu menjawab pertanyaan:

“Apakah ruang ini digunakan oleh tenant yang paling produktif?”

Tetapi Jangan Terjebak pada Omzet Saja

Di sinilah pengelolaan tenant menjadi lebih kompleks.

Tenant yang menghasilkan omzet tinggi belum tentu selalu menjadi pilihan terbaik.

Ada tenant yang meningkatkan pengalaman penumpang.

Ada tenant yang memperkuat identitas lokal.

Ada tenant yang menciptakan variasi kategori.

Ada tenant yang membuat terminal lebih menarik.

Ada tenant yang dibutuhkan pada jam tertentu meskipun penjualannya tidak sebesar tenant lain.

Karena itu, data tidak boleh digunakan sebagai mesin otomatis untuk mengusir semua tenant dengan omzet rendah.

Data harus digunakan untuk memahami fungsi tenant dalam keseluruhan ekosistem terminal.

Sebuah convenience store, misalnya, mungkin tidak memiliki omzet per meter persegi setinggi luxury retail. Tetapi keberadaannya dapat sangat penting karena menyediakan kebutuhan mendesak penumpang.

Dengan demikian, pendekatan berbasis data harus tetap mempertimbangkan passenger experience dan strategic role.

Data Dapat Membantu Menemukan “White Space”

Salah satu manfaat paling besar dari pendekatan berbasis data adalah kemampuan menemukan kategori yang belum terlayani.

Misalnya data menunjukkan:

  • Banyak penumpang bepergian bersama anak.
  • Waktu tunggu rata-rata cukup panjang.
  • Area keluarga memiliki traffic tinggi.
  • Tetapi pilihan makanan dan aktivitas anak sangat terbatas.

Ini menunjukkan adanya white space.

Masalahnya bukan mencari brand terkenal berikutnya.

Masalahnya adalah mencari tenant yang mampu mengisi kebutuhan tersebut.

Atau data menunjukkan bahwa penumpang banyak mencari oleh-oleh lokal tetapi pilihan produk khas daerah sangat sedikit.

Maka peluangnya mungkin bukan menghadirkan brand internasional lain.

Justru peluangnya adalah membangun local marketplace yang dikurasi.

Data dengan demikian dapat membantu bandara berpindah dari pendekatan brand-driven leasing menuju customer-needs-driven leasing.

Bandara Bisa Menguji Tenant Sebelum Memberikan Ruang Permanen

Data juga membuka peluang untuk mengurangi risiko.

Daripada langsung memberikan kontrak jangka panjang kepada sebuah brand, bandara dapat menggunakan model pop-up store, seasonal kiosk, temporary activation, atau pilot store.

Tenant baru diuji dalam periode tertentu.

Kemudian diukur:

traffic → conversion → average transaction value → revenue per m² → repeat demand → customer feedback.

Jika hasilnya bagus, konsep dapat diperluas.

Jika tidak, ruang dapat dialokasikan untuk konsep lain.

Pendekatan seperti ini membuat proses pemilihan tenant menjadi lebih mirip eksperimen bisnis daripada sekadar keputusan leasing.

Dan bagi brand kecil, ini juga membuka kesempatan masuk ke bandara tanpa harus langsung mengambil risiko ruang besar.

Data Penumpang Harus Menentukan “Brand Mana yang Cocok”

Karakter penumpang di setiap bandara berbeda.

Bandara yang didominasi wisatawan memiliki kebutuhan berbeda dengan bandara yang didominasi perjalanan bisnis.

Bandara dengan traffic internasional memiliki kebutuhan berbeda dengan bandara domestik.

Bandara dengan banyak keluarga memiliki kebutuhan berbeda dengan bandara yang mayoritas penumpangnya adalah pekerja.

Karena itu, tenant mix ideal seharusnya tidak seragam.

Sebuah brand yang sangat berhasil di satu bandara belum tentu memberikan performa yang sama di bandara lain.

Lokasi mengubah perilaku pelanggan.

Dan karena itu, data lokasi seharusnya ikut menentukan tenant.

Bahkan Waktu Bisa Menentukan Tenant yang Tepat

Perilaku penumpang tidak sama sepanjang hari.

Pagi hari mungkin didominasi penumpang yang mencari sarapan dan kopi.

Siang hari dapat didominasi makanan berat.

Sore dan malam memiliki pola berbeda.

Pada periode tertentu, penumpang mungkin lebih banyak mencari oleh-oleh.

Pada periode liburan, komposisi keluarga dan wisatawan dapat meningkat.

Artinya, tenant mix juga dapat dirancang berdasarkan time pattern.

Tidak semua kebutuhan harus dilayani oleh tenant yang sama sepanjang hari.

Konsep grab-and-go, vending, pop-up, dan temporary activation dapat digunakan untuk mengisi kebutuhan pada waktu tertentu.

Dengan data yang tepat, bandara dapat mengetahui bukan hanya “apa yang dibeli?”, tetapi juga “kapan dibeli?”

Dari Tenant Selection Menjadi Tenant Optimization

Ini adalah perubahan cara berpikir yang sangat penting.

Pemilihan tenant biasanya terjadi pada awal kontrak.

Tetapi perilaku pelanggan berubah.

Tren berubah.

Komposisi penumpang berubah.

Produk baru muncul.

Kompetitor berubah.

Karena itu, tenant management seharusnya bukan keputusan sekali dalam beberapa tahun.

Ia harus menjadi proses optimasi berkelanjutan.

Tenant yang bagus hari ini harus terus dipantau.

Tenant yang kurang performanya perlu dianalisis penyebabnya.

Apakah lokasinya salah?

Apakah produknya tidak cocok?

Apakah harga terlalu tinggi?

Apakah signage kurang terlihat?

Apakah jam operasional tidak sesuai?

Apakah pelayanan terlalu lambat?

Data dapat membantu membedakan antara tenant yang buruk dan tenant yang sebenarnya bagus tetapi berada dalam kondisi yang salah.

AI Bisa Membawa Tenant Selection ke Level Berikutnya

Ketika data semakin besar, artificial intelligence dapat digunakan untuk membantu membuat prediksi.

Misalnya, sistem dapat mempelajari hubungan antara:

profil penumpang + waktu + lokasi + kategori produk + traffic + transaksi + cuaca + musim + jadwal penerbangan

kemudian memprediksi kategori atau tenant yang memiliki peluang performa tinggi.

AI bahkan dapat digunakan untuk melakukan simulasi:

“Jika area ini diisi coffee shop, berapa potensi transaksi?”

“Bagaimana jika diganti dengan local food concept?”

“Apa yang terjadi jika luas tenant dikurangi 30%?”

“Bagaimana performanya pada musim liburan?”

Ini bukan berarti AI harus menggantikan keputusan manusia.

Sebaliknya, AI dapat membantu pengelola membuat keputusan leasing dengan evidence yang lebih kuat.

Tetapi Brand Tetap Memiliki Nilai

Lalu apakah kesimpulannya bandara harus meninggalkan brand besar?

Tentu tidak.

Brand besar tetap memiliki fungsi strategis.

Ia memberikan familiarity.

Ia memberikan trust.

Ia dapat menjadi traffic generator.

Ia dapat memperkuat positioning terminal.

Dan dalam kategori tertentu, kehadiran brand besar memang sangat penting.

Yang perlu berubah adalah cara menilai brand tersebut.

Nama besar seharusnya menjadi salah satu variabel, bukan satu-satunya variabel.

Sebuah brand dapat diberi skor berdasarkan beberapa faktor:

brand awareness + passenger relevance + revenue potential + revenue per m² + customer experience + operational reliability + strategic fit + local identity.

Dengan demikian, keputusan tenant menjadi lebih objektif.

Masa Depan Tenant Mix Mungkin Bukan 100% Data atau 100% Brand

Pendekatan terbaik kemungkinan bukan memilih antara data atau brand.

Melainkan:

Brand membuka peluang. Data menentukan kecocokan.

Nama besar dapat menarik perhatian.

Data menunjukkan apakah perhatian tersebut benar-benar berubah menjadi transaksi.

Brand dapat meningkatkan persepsi.

Data menunjukkan apakah persepsi tersebut menghasilkan nilai ekonomi.

Brand dapat membawa pelanggan.

Data menunjukkan apakah pelanggan tersebut sesuai dengan karakter terminal.

Dengan kombinasi tersebut, pengelola bandara dapat membangun tenant mix yang lebih sehat.

Bandara Harus Berhenti Bertanya “Siapa yang Terkenal?”

Pada akhirnya, pertanyaan paling penting dalam memilih tenant bukan:

“Brand apa yang paling terkenal?”

Tetapi:

“Brand atau konsep apa yang paling tepat untuk penumpang, lokasi, waktu, dan tujuan komersial kita?”

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.

Bandara memiliki ruang terbatas. Setiap tenant menggunakan aset yang mahal. Setiap keputusan leasing memiliki konsekuensi jangka panjang.

Karena itu, keputusan tersebut seharusnya tidak hanya berdasarkan reputasi masa lalu.

Ia harus berdasarkan bukti mengenai apa yang benar-benar bekerja.

Dan mungkin inilah arah baru airport commercial strategy:

bukan lagi mengisi terminal dengan brand sebanyak mungkin, tetapi membangun ekosistem tenant yang setiap elemennya memiliki alasan yang jelas untuk berada di sana.

Brand tetap penting.

Insting tetap penting.

Pengalaman tetap penting.

Tetapi ketika digabungkan dengan data, keputusan menjadi jauh lebih kuat.

Karena pada akhirnya, tenant terbaik bukan selalu yang paling terkenal.

Tenant terbaik adalah yang paling mampu menciptakan nilai—untuk penumpang, untuk ruang yang digunakannya, dan untuk bisnis bandara secara keseluruhan.

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Blog

Cara Membaca Perilaku Pelanggan Tanpa Harus Punya Data Canggih

Banyak pemilik bisnis percaya bahwa memahami pelanggan membutuhkan teknologi mahal, dashboard analitik...

Blog

Kenapa Waktu Tunggu di Bandara Terasa Lebih Lama dari Waktu Sebenarnya?

Ada sesuatu yang menarik tentang menunggu di bandara. Dua jam di rumah...

Blog

Kenapa Pelanggan Tidak Membeli Padahal Produk Anda Sudah Bagus?

Ada satu pertanyaan yang sering menghantui pemilik bisnis: “Kalau produk saya memang...

Blog

Bisnis di Era AI: Kalau Pelanggan Bertanya kepada AI, Apakah Mereka Masih Mencari di Google?

Selama lebih dari dua dekade, Google menjadi salah satu pintu utama yang...