Banyak brand lokal melihat bandara sebagai lokasi premium yang menjanjikan omzet besar dan citra yang terangkat. Namun setelah mencoba masuk, tidak sedikit yang justru mundur sebelum beroperasi, atau bertahan sebentar lalu menyerah.
Masalahnya bukan pada produknya, tetapi pada ketidaksiapan menghadapi ekosistem bandara yang sangat berbeda dari pusat perbelanjaan biasa. Bandara memiliki standar, ritme, dan tuntutan operasional yang tidak semua brand pahami sejak awal.
Toko di bandara tidak bisa didesain sesuka hati. Ada standar tampilan, material, pencahayaan, hingga alur pelayanan yang harus disesuaikan dengan regulasi terminal. Proses persetujuan desain bisa memakan waktu panjang dan biaya yang tidak kecil.
Brand yang terbiasa fleksibel di luar bandara sering kali kaget ketika harus mengikuti standar yang detail dan ketat ini.
Memasukkan barang ke dalam bandara tidak sama dengan mengirim stok ke toko di mal. Ada prosedur keamanan, jadwal terbatas, dan jalur distribusi khusus yang harus dipatuhi. Hal ini memengaruhi manajemen stok dan biaya operasional harian.
Brand yang tidak menyiapkan sistem logistik yang rapi akan kesulitan menjaga ketersediaan barang di rak.
Penumpang bandara datang dari berbagai daerah dan negara. Mereka terbiasa dengan standar pelayanan tinggi. Staf toko harus mampu melayani dengan cepat, ramah, dan efisien dalam situasi yang dinamis.
Tidak semua brand menyiapkan tim dengan standar pelayanan seperti ini, padahal kualitas interaksi sangat memengaruhi keputusan pembelian.
Kesalahan umum lainnya adalah membawa konsep toko yang sama persis seperti di luar bandara. Padahal perilaku penumpang berbeda. Mereka tidak punya banyak waktu untuk memilih, cenderung membeli secara cepat, dan lebih tertarik pada produk yang relevan dengan perjalanan.
Ketika konsep usaha tidak disesuaikan dengan konteks ini, performa penjualan menjadi jauh dari harapan.
Banyak brand hanya menghitung potensi omzet tanpa menghitung detail biaya konsesi, operasional, logistik, dan standar bandara. Ketika realita biaya muncul, margin keuntungan menjadi sangat tipis bahkan merugi.
Kegagalan ini sebenarnya bisa dihindari jika sejak awal dilakukan perhitungan yang matang.
Masuk bandara bukan soal berani atau tidak, tetapi soal siap atau tidak. Siap secara sistem, siap secara operasional, siap secara konsep bisnis, dan siap memahami karakter penumpang.
Brand yang masuk dengan persiapan matang justru bisa bertahan lama dan menikmati potensi besar yang ditawarkan terminal.
Banyak kegagalan brand lokal di bandara bukan karena produknya tidak bagus, tetapi karena kurangnya pemahaman terhadap ekosistem non-aero. Dengan pendekatan berbasis riset, penyesuaian konsep, dan perhitungan yang tepat, peluang berhasil sebenarnya sangat besar.
Bandara bukan tempat yang sulit dimasuki. Ia hanya tempat yang menuntut kesiapan lebih tinggi dibanding lokasi usaha lainnya.
Bandara Bukan Lokasi Usaha Biasa Membuka usaha di bandara tidak bisa disamakan...
Byadmin24/02/2026Wisatawan Adalah Pembeli Paling Ideal di Bandara Bandara di destinasi wisata memiliki...
Byadmin22/02/2026Bukan Banyaknya Toko, Tapi Susunannya Kesalahan paling umum dalam pengelolaan ruang komersial...
Byadmin19/02/2026Terminal yang Dirancang Seperti Jalan Belanja Di Dubai International Airport, penumpang berjalan...
Byadmin17/02/2026
Leave a comment