Blog

Pembentukan Kota Aerotropolis Sejalan Dengan Konsep Kota Hijau

Pembentukan Aerotropolis di dunia pada dasarnya sejalan dengan promosi kota hijau sebagai sebuah pendekatan baru dalam perencanaan dan pembangunan kawasan perkotaan yang berkelanjutan. Aerotropolis merupakan tata kota urban yang desain, infrastruktur, dan ekonominya berpusat pada sebuah bandar udara.

Pada Seminar The Future Plan and Design fo Airport City and Aerotropolis di Jakarta, Kamis (13/2), Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum (PU) Bidang Keterpaduan Pembangunan, Taufik Widjojono yang mewakili Menteri PU mengatakan, pendekatan kota hijau merupakan hal yang esensial dalam rangka mengantisipasi dampak negatif perubahan iklim dan menipisnya sumber daya alam untuk mendukung fungsi kota.

“Pertimbangan kelestarian lingkungan dan mitigasi berbagai dampak bencana harus menjadi inti dari proses pembangunan aerotropolis di Indonesia,”ungkap Taufik.

Dia menegaskan, tujuan utamanya bukan hanya untuk mencapai efisiensi, kecepatan dan konektivitas semata, namun juga meningkatkan kualitas hidup pada ruang perkotaan yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Kementerian PU memandang tiga unsur penting dalam realisasi aerotropolis adalah urban planningairport planning dan business-site planning.

Pada urban planning, rencana dan rancangan yang dihasilkan harus memiliki dasar hukum yang memadai dengan tetap memperhatikan daya dukung dan daya tamping lingkungan agar pengembangan kawasan dapat berkelanjutan. Airport planning menekankan strategi pengembangan kapasitas bandara untuk setidaknya 20-30 tahun kedepan.

“Sedangkan business site planning dititikberatkan pada upaya menciptakan daya tarik kawasan primary business booster sebagai konsentrasi investasi,”ucap Taufik.

Perwujudan aerotropolis melalui integrasi ketiga unsur strategis tersebut mempunyai nilai yang sangat mendasar, khususnya pada bandara utama yang telah memiliki keterkaitan erat dengan kota-kota metropolitan seperti Jakarta, Denpasar, Surabaya dan Makassar.

Untuk mentransformasikan semua hal diatas memerlukan langkah-langkah terobosan, namun hendaknya tetap menyesuaikan dengan konteks kebutuhan dan kondisi perkotaan di Indonesia. Taufik juga menerangkan, salah satu elemen kunci pembentukan aerotropolis adalah kawasan primary business booster sebagai pengikat spasial antara bandara dan kota-kota di sekelilingnya.

“Pada kawasan ini, transaksi ekonomi tidak bertumpu pada sumber pendapatan bandara yang tradisional, seperti tiket, retail dan kargo, melainkan bertumpu pada konsentrasi investasi bisnis antara lain fasilitas MICE (meeting, incentives, convention, and exhibition), komersial,pergudangan, permukiman dan ruang terbuka hijau,”sambungnya.

Saat ini, transaksi ekonomi pada bandara dan kawasan sekitarnya di Indonesia dapat dikatakan belum optimal. Secara agregat besarannya tertinggal jauh dari bandara internasional lain yang dianggap sebagai model aerotropolis di dunia. Total transaksi ekonomi di bandara Soekarno-Hatta, misalnya saat ini hanyalah 2,8 persen dari bandara Dubai dan 4,1 persen dari Heathrow-London. (rnd)

Sumber : pu.go.id

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles

Artikel Non AeroBlog

Mengapa Duty Free Selalu Berada Setelah Pemeriksaan Keamanan? Ternyata Ada Strategi Bisnis di Baliknya

Mengapa Duty Free Selalu Berada Setelah Pemeriksaan Keamanan? Ternyata Ada Strategi Bisnis...

Artikel Non AeroBlog

Mengapa Banyak Tenant Bandara Gagal, Padahal Penumpangnya Jutaan?

Mengapa Banyak Tenant Bandara Gagal, Padahal Penumpangnya Jutaan? Bagi banyak pelaku bisnis,...

BlogArtikel Non Aero

Bandara Terbaik Dunia Dibangun dari Experience, Bukan Sekadar Beton

Ketika membicarakan bandara terbaik di dunia, banyak orang langsung membayangkan terminal yang...

Artikel Non AeroBlog

7 Bandara Terbaik Dunia yang Berhasil Menjadi Destinasi Wisata, Bukan Sekadar Tempat Transit

Bagi sebagian besar orang, bandara hanyalah tempat singgah sebelum naik pesawat. Namun,...