Tahun 2026 diprediksi menjadi momentum penting bagi kebangkitan bisnis non-aero di kawasan Asia Tenggara. Setelah periode pemulihan pasca-pandemi, peningkatan mobilitas masyarakat, pertumbuhan maskapai berbiaya rendah, serta meningkatnya kelas menengah baru, menghadirkan peluang besar untuk ekspansi pendapatan non-aero di bandara. Bagi bandara-bandara Indonesia, ini adalah momen emas untuk mengejar ketertinggalan dari Changi, Incheon, atau Narita, sekaligus memaksimalkan potensi komersial yang sebelumnya belum tergarap optimal.
1. Lonjakan Pertumbuhan Penumpang 2025–2026
Secara global, proyeksi menunjukkan bahwa mobilitas udara akan kembali mencapai titik pertumbuhan tertinggi pada 2026. Di Asia Tenggara, pertumbuhan penumpang diperkirakan 7–10% per tahun, didorong oleh:
-
ekspansi maskapai LCC seperti AirAsia, Lion Group, VietJet;
-
meningkatnya perjalanan wisata regional;
-
kenaikan segmen business travel pasca stabilisasi ekonomi.
Dengan lebih banyak penumpang, dwell time meningkat, dan ini langsung memperluas peluang monetisasi non-aero seperti F&B, retail, lounge, area komersial, dan layanan tambahan.
2. Bandara Sebagai Destination Hub, Bukan Hanya Transit
Salah satu tren utama 2026 adalah pergeseran konsep bandara global: dari sekadar titik perpindahan menjadi destinasi leisure & lifestyle.
Contoh nyata:
-
Changi Airport dengan Jewel sebagai area ritel, hiburan, dan nature experience.
-
Incheon yang membangun kawasan entertainment dengan konsep aerotropolis.
Indonesia dan Asia Tenggara mulai mengarah ke model ini karena:
-
penumpang lebih nyaman untuk datang lebih awal,
-
daya tarik airport sebagai venue wisata,
-
potensi pengeluaran penumpang semakin besar.
Peluang bisnis baru 2026:
-
mini leisure area
-
wellness lounge (meditation nook, spa express)
-
coworking space untuk penumpang bisnis
-
galeri seni lokal
3. Spending Power Penumpang Asia Tenggara Semakin Tinggi
Studi menunjukkan bahwa penumpang regional kini memiliki kecenderungan belanja yang lebih besar di bandara—mulai dari brand lokal hingga produk premium. Tahun 2026, spending per-passenger diproyeksikan naik 8–12%, terutama untuk:
-
coffee & light dining
-
produk lokal curated (UMKM premium)
-
lifestyle goods
-
convenience retail
Ini membuka peluang bagi bandara regional di Indonesia untuk mengembangkan:
-
konsep food street lokal,
-
curated local brand zone,
-
pop-up store musiman,
-
retail franchise.
4. UMKM Premium Jadi Motor Baru Non-Aero
2026 akan menjadi tahunnya UMKM premium. Penumpang global—terutama Gen Z dan wisatawan mancanegara—semakin mencari:
-
produk daerah,
-
craft goods,
-
local delicacies,
-
sustainable artisan products.
Ini menjadi peluang besar untuk bandara di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam untuk:
-
membuka jalur kurasi UMKM,
-
menyiapkan standardisasi kualitas produk,
-
memperluas kolaborasi revenue sharing dengan brand lokal.
Bandara tidak lagi menjadi tempat retail besar saja, tetapi panggung utama bagi lokalitas.
5. Strategi Komersialisasi Non-Aero 2026
Agar pertumbuhan non-aero di Asia Tenggara optimal, ada beberapa strategi yang akan menjadi fokus:
a. Optimalisasi Data Penumpang
Data digunakan untuk:
-
memetakan spending behavior,
-
menentukan tenant mix,
-
personalisasi promo.
b. Re-Design Flow Penumpang
Bandara 2026 akan menekankan:
-
visual merchandising,
-
navigasi komersial,
-
desain yang memperpanjang waktu interaksi penumpang.
c. Fleksibilitas Tenancy Model
Konsep baru:
-
short-term pop-up,
-
revenue sharing hybrid,
-
micro franchise concept.
d. Kolaborasi dengan Startup & Digital Partner
Termasuk:
-
fintech untuk pembayaran
-
loyalty program
-
immersive technology untuk meningkatkan experience
6. Bandara Indonesia: Menuju Pemain Besar Non-Aero Regional
Bandara seperti:
-
Soekarno-Hatta,
-
I Gusti Ngurah Rai,
-
Kualanamu,
-
YIA,
-
SAMS Sepinggan,
mulai masuk ke fase transformasi komersial. Potensi 2026:
-
penyempurnaan zonasi retail,
-
pemanfaatan area idle sebagai kawasan bisnis,
-
integrasi kawasan bandara (airport city & aerotropolis).
Dengan proyeksi 100 juta lebih penumpang domestik dan internasional, Indonesia sebenarnya memiliki basis pasar terbesar di seluruh Asia Tenggara.
Kesimpulan
Tahun 2026 akan menjadi momentum penting untuk kebangkitan bisnis non-aero di kawasan Asia Tenggara. Dengan pergerakan penumpang yang meningkat, pola konsumsi baru, naiknya minat pada brand lokal, serta digitalisasi layanan, bandara memiliki peluang untuk menciptakan ekosistem komersial yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, ini adalah kesempatan untuk mengejar standar internasional dan menciptakan model bisnis non-aero yang inovatif, efisien, dan memiliki karakter lokal yang kuat.
Leave a comment